Pagi pagi benar, sebelum matahari terbit di celah bukit sebelah timur, kami sudah berangkat dari rumah menuju ke sawah, untuk menghalau burung. Padi sudah hampir menguning. Pertanda sebentar lagi masa panen. Masa panen adalah masa yang paling dinantikan, karena disamping keramaian di sawah, makananpun enak-enak. Tapi itu belum sekarang. Nanti kalau sudah tiba waktunya.
Subuh-subuh, air embun berkumpul dilembar lembar dedaunan. Ketika tersentuh telapak kaki, tersentuh lutut, bahkan tersentuh oleh lengan, basah dan dingin. Merinding bulu romaku, menahan dingin.
Sampai di sawah, yang pertama kulakukan adalah memasang api. Minyak tanah yang kubawa dengan botol limun, tinggal sedikit. Kukupas tiang dangau yang terbuat dari bambu agar menjadi serpih-serpih tipis, agar mudah terbakar. Kayu kayu yang terletak di tanah, semua lembab. Bahkan ijuk yang ada di sudut dangau juga basah. Perlahan tapi pasti, api semakin menyala dan mulai membakar ranting ranting yang kutumpuk diatas tungku. Api membesar, hatiku senang. Gerombolan burung pipit mulai berdatangan. Segara kutarik tali mengguncang kotok-kotok dan berbunyi tok tok tok, sambil aku berteriak hoooooooi….hoooooi, burung pun menikung seperti pesawat tempur merubah arah ke petak sawah orang lain. Kujerangkan air diatas tungku dengan menggunakan ceret seng yang dibelikan ibu di pasar. Ubi kayu yang bibaya ibu kemarin dari lading, kukupas dan kubakar dipinggir tungku. Ada gula merah didalam sumpit pandan dan bubuk the cap 37 kesukaan kami sekeluarga. Makan ubi baker dengan air the dan gula aren, adalah satu kenikmatan di pagi hari. Kami makan ubi sebagai kesenangan, bukan karena kurang beras. Padi kami berlumbung-lumbung di desa. Tapi ubi di saat subuh juga nikmat, apalagi ada gosong-gosongnya. Pahit-pahit manis, sedap rasanya.
Ketika matahari telah naik diatas bukit, aku pergi mandi di pancuran, dan pulang kerumah. Setelah mengganti baju, kusambar buku buku, dan berangkat kesekolah, bersama – sama dengan anak-anak yang lain. Kami mempunyai tugas yang berbeda. Ada juga yang kerjanya menghalau burung seperti aku, tapi ada juga teman yang memanfaatkan waktu subuh untuk mengambil rumput untuk makanan ternaknya. Pernah sekali waktu teman saya terlambat masuk kelas. Ketika ditanya guru, dia memberi alas an karena menyabit rumput untuk ternaknya. Pak Guru marah dan menyuruh pulang dan teruslah menyabit rumput. Sejak itu kami tidak pernah lagi berani menjadikan hal itu sebagai alas an, kalau kami terlambat masuk sekolah.
Di sekolah, tidak semua murid cukup cerdas. Beberapa diantara kami dapat dikatakan cukup bodoh, sehingga kadang-kadang pak guru memukul betis kami kalau kami tidak dapat memberikan jawan yang benar atas pelajaran yang diajarkan. Sebetulnya kena pulul di betis atau kena cubit di perut itu, cukup memalukan. Tapi bagaimana kami harus mengatasinya, sementara waktu kami untuk belajar hanya saat berada didalam ruang kelas. Sepulang dari sekolah, sudah banyak tugas-tugas menunggu kami. Teman-teman yang mempunyai adik, harus menjaga adik-adiknya, sementara ayah dan ibunya bekerja di ladang atau di sawah. Ada juga teman saya yang sepulang sekolah membantu mangambilkan air dari pancuran untuk kedai kopi. Dia mendapat upah yang dikumpulkan untuk membeli baju kalau nanti kenaikan kelas, supaya bias berbaju baru. Ada juga yang harus menggembalakan sapi dan kerbaunya sampai sore, dan membawanya pulang ke desa. Aku sendiri tidak terlalu banyak yang harus kukerjakan, karena aku tidak mempunyai adik. Aku adalah anak bungsu. Sepulang sekolah, aku biasanya menyusul ibu ke lading atau ke sawah. Aku membantu ibu sekehendakku. Ibu berfikir bahwa membuatku lelah bekerja dapat membuatku menjadi bodoh. Prinsip beliau, yang penting prestasi belajarku harus bagus, supaya dapat melanjutkan sekolah lebih tinggi. Kawan kawan selalu mengatakan bahwa aku lebih pintar dari mereka, karena waktuku sehari-hari hanya belajar dan membaca buku. Sedangkan mereka dibebani pekerjaan yang cukup berat dari orang tua. Pendapat itu tidak sepenuhnya benar, karena ada juga sahabatku yang mempunyai tugas berat dari orang tuanya, tetapi disekolah dia selalu mendapat nilai yang bagus.
Musim panen sudah tiba. Untuk persiapan panen, kami sudah membuat tikar alas tumpukan sabitan padi yang nantinya setelah semua disabit dikumpulkan disitu. Keesokan harinya, padi itu diirik, untuk melepaskan bulir padi dari jeraminya. Selesai diirik, dianginkan untuk memisahkan padi yang berisi dengan padi yang hampa. Untuk itu dibutuhkan angin yang kencang. Untuk memancing angin, kami biasanya menyalakan api. Sambil bersiul dan berteriak memanggil angina dengan bibir monyong berbunyi puuuuuuuur, puuuuur. Aku sendiri tidak yakin ada manfaatnya teriakan itu, tapi selalu dilakukan tatkala menganginkan padi yang baru diirik. Setelah dipisahkan padi yang bernas dengan yang hampa, maka padi bernas dijemur sampai kering di panas matahari. Setelah kering dibawa ke desa dengan pedati atau kereta lembu, dimasukkan kedalam lumbung. Setiap kali beras di rumah sudah hamper habis, maka padi dari lumbung dikeluarkan barang sekarung dua, dapat ditumbuk sendiri dengan lesung atau dibawa ke mesin gilingan padi. Beras hasil tumbukan lesung jauh lebih bermutu dari hasil gilingan padi, karena kandungan vitamin B- nya jauh lebih banyak.
Ketika masa panen, kita biasanya potong ayam, famili-famili kita ajak bergotong royong ke sawah kita. Ada yang menyabit padi, ada yang mengantar ketempat pengirikan, ada yang mengirik, ada yang memisah jerami dengan padi, terakhir adalah menganginkan. Anak anak biasanya berlari berkejar kejaran sambil bermain layangan. Sore hari setiap keluarga yang membantu dibekali satu sumpit padi, beratnya kira kira sepuluh kilogram.
Sebagai upahku selama masa menjaga padi dan menghalau burung, akan dibelikan pakaian dan tas sekolah yang baru. Pernah sekali aku minta dibelikan sepeda sama ibu, tapi katanya padi kami tidak mencukupi kalau untuk membeli sepeda. Cita citaku membeli sepeda jengki kandas. Untuk sementara aku tetap memakai sepeda besar milik ayah yang ditinggal di kampung.
Ketika aku naik ke kelas lima, ayah menjemputku ke kampong dan dibawa ke kota. O ya aku lupa menceritakan bahwa sebenarnya aku lahir di kota, ayah saya seorang pengelola Pompa bensin, istilah sekarang adalah menejer. Ketika itu ibu saya mempunyai kios di pasar untuk berjualan pisang. Tapi ketika aku masih berumur lima tahun, ibuku menjual kios pisangnya, untuk menebus sawah kakek yang pada masa awal kemerdekaan digadaikan kepada orang lain. Sejak itu aku dibawa ibu ke kampung/desa, sementara ayah dengan tiga orang kakakku yang semuanya perempuan saat itu yang paling tua bersekolah di SGA, yang nomor dua di SPMA dan yang paling kecil SMP kelas satu. Selisih umurku dengan kakakku yang kecil adalah delapan tahun. Lima tahun aku hidup di desa bersama ibu, aku dijemput ayah, sementara ibu bertahan di desa mengurus lading dan sawah warisan kakek kami. Jarak dari kota kabupaten dengan desa kami empat belas kilometer, ditempuh ayah dengan sepeda selama empat puluh menit. Sepuluh kilometer jalannya jalan aspal jalan propinsi. Empat kilometer jalan kampung. Kendaraan umum hanya ada seminggu sekali, yakni pada hari Senin, ketika di kota kabupaten sebagai hari pasar atau hari pekan.
Sejak aku bersekolah di kota, setiap hari Sabtu aku ke desa bersama ayah, dengan bersepeda. Di kampung kami memancing dan mencari ikan di kolam. Ibu kadang kadang menyuruh kami membantu pekerjaannya di sawah atau di ladang. Tetapi ayah saya tidak terampil mencangkul, sehingga ibu kadang kadang jengkel melihatnya dan menyuruh kami pergi saja ke sungai memancing. Membuat beliau ikut ikutan malas katanya.
Sebenarnya kami tak pernah menghasilkan banyak ikan, tapi ayah tak pernah bosan. Ikannya juga kecil kecil. Ikan hasil pancingan itu dimasak ibu dengan bumbu pedas, kadang-kadang dengan terong dan asam asaman. Rasanya asin dan pedas. Memasaknya menggunakan periuk tanah, supaya aromanya lebih gurih dan tahan lama, tidak basi. Ikan yang telah dimasak itu kami bawa ke kota untuk lauk kami dengan kakak.
Ketika aku memasuki kelas dua SMP, kelasku mendapat anak murid baru pindahan dari kota lain. Perempuan yang cantik menurutku, dan yang membuatku penasaran adalah otaknya yang sangat cerdas. Dia ikut ayahnya yang pindah tugas dari kota lain. Ayahnya seorang jaksa, seorang sarjana hukum. Ayah saya menyebutnya mesteer. Dia sudah menjadi langganan ayah saya dengan sedan Fiat 131 yang menurutku sangat hebat, karena sebenarnya mobil dinas di kota kami belum banyak, masih puluhan saja. Nama gadis itu Feriana boru Sinaga, dipanggil teman teman Eri. Aku sendiri memanggilnya Ana, dan dia menyikapinya dengan biasa biasa saja. Model rambutnya dipotong pendek, dan anting antingnya menggantung. Masih jarang di kota ku seperti itu. Dia bersepeda jengki yang sangat bagus dan berkilap. Kecerdasannya membuat aku mulai tersisihkan di kelas. Hanya dibidang seni suara, dia kalah denganku, karena untuk yang satu ini, seluruh kota juga mengetahui siapa aku. Kebetulan ayahku pemimpin senuah grup kesenian tradisional, sehingga aku banyak mengenal pemusik tradisi. Yang membuat aku sangat kagum padanya adalah ketika kulihat dia menyetir mobil sedan ayahnya ke pompa minyak, dan kebetulan aku sedang ada kepentingan menemui ayah disana. Walaupun pompa bensin itu bukan milik kami, tetapi aku cukup bangga menjadi anak seorang pengelola pompa bensin. Kapan ya, aku bisa menyetir mobil seperti dia, fikirku dalam hati. Aku ingin belajar mengemudi mobil, supaya bias menyaingi dia. Ketika sekali waktu Pak Simanjorang meninggalkan mobil tangki di rumah kami, halaman rumah kami memang luas, ukurannya lima puluh kali tigapuluh meter, kuncinya ditinggalkan juga di rumah, karena dia menjenguk saudaranya yang sakit di desa yang letaknya tidak jauh dari kota kami. Aku ambil kunci kontaknya, kunaiki mobil tangki itu, mereknya Fargo, Made In USA, kuhidupkan mesin, dan berhasil. Kemudian kucoba masukkan gigi satu, mobil berkapasitas sepuluh ribu liter itu bergerak, tikungan pertama masuk jalan aspal, aku selamat. Seratus meter kemudian, di simpang empat Gedung Nasional, aku berusaha belok lagi ke kiri. Banyak teman-teman yang sedang bermain di Gedung Nasional, melihat saya membawa mobil tangki. Rupanya aku terlalu cepat mengambil tikungan, ban belakang masuk ke parit besar dan ban depan sebelah kanan naik ke udara, mesinnya menjerit lalu mati. Semua orang berkerumun. Disudut simpang itu ada perusahaan pemborong atau kontraktor bangunan jalan bernama CV. Sagala & Son, yang memang kenal baik dengan keluarga kami. Dibawanya mobil doser dan mobil tangki itu ditarik. Beberapa menit berselang ayahpun dating dari pompa bensin. Kejadian itu rupanya jadi ceritra di sekolah dan saya diolok olok kawan bercita cita jadi supir mobil tangki. Padahal maksud hati ingin menyaingi gadis yang baru pindah ke kelas kami.
Karena tak tahan dengan kegalauan hatiku, aku mengadu kepada kakak yang nomor dua. Aku katakana, tidak ada modalku untuk menarik perhatiannya. Lalu kata kakak, kalau dia memang cerdas, kalahkan dia. Dengan kamu bias mengalahkan dia, maka kamu akan dikaguminya. Dorongan itulah yang membuatku bersemangat untuk belajar. Aku mulai pelit untuk memberi info ataupun menghindari curah pendapat dengannya, agar ilmuku tidak dicurinya. Tapi sikapku itu rupanya menjadi aneh baginya, dan sekali waktu, ketika kami hanya berdua didalam kelas dia bertanya, mengapa aku akhir akhir ini menjauh dari kawan kawan. Aku katakan aku harus belajar lebih keras, karena ada target yang harus kucapai. Dan dia memuji aku dengan tekadku yang kuat itu. Akhir kelas dua, prestasiku benar benar gemilang dan aku mendapat predikat yang terbaik, dan dia menjadi peringkat kedua. Waktu pulang dari sekolah, dia dijemput ayahnya, dan aku diajak ikut naik mobil sedan yang keren itu. Harum dan sangat menyenangkan. Ayahnya melihat raut kekagumanku, lalu katanya, jikalau aku dapat mempertahankan prestasiku, maka kelak akupun bias mendapatkan mobil seperti miliknya itu. Malamnya aku bermimpi mendapat mobil semewah itu, dan Ana kuajak jalan jalan. Tentu saja aku yang nyupir dan tidak masuk parit. Tapi ternyata baru sebatas mimpi.